Kompak Mengurus Rumah Tangga

eramuslim – Tak pernah mudah bila harus mengerjakan tugas-tugas rumah tangga sendirian, mungkin hal itulah yang selalu mampir di benak para istri. Terutama mereka yang baru memulai kehidupan berumah tangga. Menghadapi sejumlah hal yang menguji kemampuan diri untuk beradaptasi dengan sekian perbedaan yang mungkin baru tampak ketika sudah dijalani. Beradaptasi dengan sekian tugas-tugas yang terkesan tak pernah habisnya, yang tak ditemui ketika dulu hidup hanya mengurusi diri sendiri.

Setiap pagi, selalu sigap dengan sarapan yang sudah tersedia ketika suami dan anak-anak hendak berangkat menuju tempat aktivitas masing-masing, berarti mempercepat gerak untuk bangun lebih pagi dan menyiapkan semuanya. Lalu beranjak membereskan cucian yang menumpuk, untuk direndam kemudian dicuci, atau merapikan pakaian yang belum sempat disetrika. Menyapu, mengepel, kemudian merapikan perabotan. Setelah itu, mungkin saja mengguyur badan dengan air segar di kamar mandi baru sempat dilakukan. Berdandan, lalu berangkat ke kantor, atau ke tempat aktivitas lain, atau meneruskan mengerjakan pekerjaan rumah, bagi para istri yang kebetulan memang menyediakan diri mereka di rumah.

Sore hari, ketika masing-masing telah pulang setelah menghabiskan waktu seharian di luar rumah, para istri dan ibu pula lah yang berjasa membuat ‘tempat berpulang’ itu bersih dan nyaman. Sehingga para suami serta anak-anak yang kembali ke rumah dengan kondisi lelah serta penat akan mendapati rumah dalam keadaan ‘siap’. Padahal, tak jarang kini para ibu-ibu muda juga menjalani aktivitas sebagai karyawan, dengan jam kerja yang sama dengan para suami atau bahkan ada yang lebih. Tentu kelelahan dan penat itu sama dirasakan. Namun kewajiban sebagai seorang istri dan ibu tetap harus dijalankan dengan baik. Alangkah mulia mereka yang dapat menyeimbangkan antara aktivitasnya di luar dan tugas-tugas yang menanti di rumah. Sehingga tak ada yang ditelantarkan.

Begitulah idealnya, namun tak sedikit pula yang sering mengeluhkan betapa beratnya harus menjalani semua itu sendirian. Belum lagi bila menghadapi kesulitan-kesulitan kecil maupun besar, yang harus diselesaikan sendirian, sebab tak ada pasangan yang mendampingi. Perasaan yang berkecamuk, entah itu kesal, sedih, atau marah, pun seringkali harus ditelan bulat-bulat dan terlupa untuk dicurahkan ketika suami pulang. Saat kondisi itu terjadi, setan akan sangat bergembira menyambut celah dari ‘niat’ yang sangat rentan untuk digoyahkan. Untuk kemudian menumbuhkan benih-benih hitam yang akan merusak perasaan dan hati. Na’udzubillahi min dzaalik….

Di sinilah akan diuji kekompakan pasangan suami istri. Berkaitan dengan kesepakatan-kesepakatan kecil yang dapat dibuat bersama. Seorang istri bisa saja meminta kesediaan sang suami untuk membantunya mengerjakan tugas-tugas domestik, yang selama ini mungkin terbiasa dikerjakan sendirian oleh sang istri. Membagi tugas atau mengerjakannya secara bersama-sama dan bergantian, akan menciptakan keharmonisan bagi keduanya. Si suami akan dapat melatih dirinya supaya bisa berempati terhadap istri tercinta, bahwa ternyata mengerjakan semua tugas-tugas tersebut sendirian memang tak mudah. Memahami bahwa keikhlasan istri mengerjakan semua itu didasari oleh bakti dan cintanya pada suami,tentu akan menumbuhsuburkan rasa kasih sayang yang demikian besar di benak suami. Dengan menjalani tugas-tugas keseharian secara bersama-sama tersebut, pasangan suami istri akan terlatih untuk dapat saling berbagi dan mengerti tugas dan kewajibannya masing-masing. Disamping juga akan melatih keduanya untuk ber-‘amal jama’i dalam berumah tangga, dimulai dari urusan bersih-bersih dan membereskan rumah ini.

Apalagi ketika suami harus menghadapi kondisi dimana istri sakit dan tak bertenaga untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Bagi mereka yang terbiasa untuk membantu istri, mungkin kondisi ini tak kan membuat kewalahan. Sehingga kondisi rumah tetap terjaga kerapihan serta kebersihannya, walaupun bukan oleh tangan istri. Demikian pula ketika si kecil mulai meramaikan hari-hari keduanya. Pastilah istri membutuhkan bantuan-bantuan kecil dari suami, terutama hari-hari pertama setelah melahirkan.

Membangun kekompakan dalam mengurus rumah tangga memang tak mudah. Sebab hal ini berkaitan dengan kelapangan hati dan kesediaan masing-masing untuk dapat meluangkan waktu untuk dapat saling berbagi dan membantu satu sama lain. Bukankan momen ketika suami istri bersama-sama mengerjakan pekerjaan rumah dapat dijadikan sarana refreshing sekaligus pendidikan bagi kedisiplinan akan kebersihan? Sehingga kelak kebiasaan yang baik itu dapat ditularkan kepada anak-anak tercinta. Dan para ayah serta anak-anak tak kan lagi hanya akan berdiam diri dan tak peduli padahal si ummi sedang sibuk dan berpeluh menjadikan rumah bersih, indah, serta nyaman bagi seluruh anggota keluarga.

Hingga tak ada lagi para istri yang berkeluh kesah, bersungut-sungut, bahkan stres mengurusi pekerjaan rumah. Sebab hal itu hanya akan mengotori niat, padahal kesibukan di rumah, bagi istri, adalah senilai dengan mereka yang terjun ke medan jihad.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: