Membuka Komunikasi, Menyatukan Hati

eramuslim – Membangun jalan komunikasi memang tidak selamanya mudah, perlu waktu bahkan bantuan dari pihak lain. Berikut beberapa hal yang bisa membantu suami istri agar dapat membuka dan melancarkan komunikasi, diantaranya:

Menyamakan pandangan

Komunikasi merupakan modal awal perkawinan yang akan berimbas pada kelancaran berkomunikasi pasangan suami istri. Dalam rumah tangga yang akan dikomunikasikan adalah pilihan-pilihan hidup yang sesuai dengan kemauan dan keinginan, sedangkan kemauan dan keinginan adalah buah keyakinan kita.

“Sehingga tidak mungkin komunikasi bisa baik, kalau pandangan soal baik dan buruk sudah beda. Terutama baik dan buruk yang sangat prinsipil, ” jelas Ustadz Ahmad Sahal Hasan Dosen STAIDI al-Hikmah Jakarta

Oleh karena itu, tambahnya menyamakan visi dan misi adalah hal yang sangat penting dan harus dilakukan sebelum pernikahan atau paling tidak sejak awal pernikahan. Persamaan pada hal yang besar ini, seringkali mampu menyingkirkan krikil-krikil kecil dalam perjalanan perkawinan, termasuk soal kelancaran berkomunikasi.

Memahami latar belakang dan karakter pasangan

Menurut Evi Elviati, Psi. Karakter adalah hal dasar yang sudah ada pada diri seseorang sejak lahir. namun, dengan jenis apapun karakter seseorang tetap mampu berkomunikasi, karena komunikasi merupakan ketrampilan. Latihan terus menerus akan menjadikan orang trampil berkomunikasi.

Untuk latihan ini, pihak lain dalam hal ini suami istri dapat saling memberikan bantuan. Misalnya, bila suami nampak susah berkomunikasi karena karakternya yang sangat pendiam, maka istri dapat membantu suami mengungkapkan isi hatinya. “Kita harus bisa menyiasatinya, sehingga bila ada apa-apa dia mau membicarakannya. Suka tidak suka, bilang. Kalau setiap kali kita beri stimulasi, lama-lama dia akan bisa, ” ungkap Evi

Dalam hal perbedaan latar belakang, misalnya budaya. Lagi-lagi diperlukan kebesaran hati masing-masing untuk menerimanya. Kalaupun kemudian mengganggu komunikai, misalnya yang satu tidak biasa berbicara pelan, sedangkan yang lainnya tidak biasa bicara keras-keras, perlu dilakukan pembiasaan atau penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan kedua belah pihak.

“Keduanya harus bisa saling menyesuaikan tidak bisa sekedar memaksakan kehendak, sementara kita sendiri tidak mau berubah. Jadi kita lihat mana yang bisa diubah, kita ubah, ” papar Evi

Meluruskan persepsi

Kesalahan persepsi seringkali menjadi hambatan dalam berkomunikasi. Ketika suami pulang larut malam, istri langsung saja marah tanpa mendengarkan alasan suami. Apapun yang dikatakan oleh suami dianggapnya bohong. Padahal suami mengatakan alasan benar dan tidak dibuat-buat.

Kejadian ini kerapkali terjadi, padahal seharusnya tidak perlu terjadi bila ada proses klarifikasi. “Jangan punya persepsi buruk dulu. Dalam Islam kan ada yang namanya tabayun, ” kata Evi lagi

Begitu pun sikap suami yang terlalu merendahkan istri, karena punya persepsi memang begitulah kedudukan istri. Persepsi ini perlu diluruskan karena Islam meninggikan derajat kaum ibu.
“Supaya persepsi kita pas dengan persepsi Islam, kita harus merujuk pada praktek Rasulallah dan para sahabat,” ujar Ustadz Ahmad Sahal

Dengan mempelajarinya, bisa jadi prilaku pasangan yang sebelumnya tidak kita sukai dan kita anggap tidak baik, ternyata sesuai dengan tuntunan Islam. Itu artinya ia harus mengubah persepsi yang selama ini tertanam dibenaknya.

Membangun Empati

Menempatkan diri pada tempat orang lain, cukup efektif untuk menjadikan kita mengerti parasaan dan pikiran orang lain. Pertimbangkanlah apakah bila kita mengatakan seseuatu pada suami atau istri yang mungkin cukup sensitif ia tidak akan tersinggung? Atau apakah waktu dan kondisinya tepat untuk mengungkapkan isi hati?

Mungkin boleh dibilang kurang berempati bila seorang istri mengajak suami berdiskusi panjang lebar, sementara suami baru saja pulang kerja dan terlihat sangat lelah. Saat kita mengerti perasaan dan pikiran pasangan, maka bahasa yang kita ucapkanpun akan lebih mengena bagi dirinya. Komunikasi tentu akan jauh lebih efektif.

Bersikap Asertif

Orang yang asertif tahu perasaan dan keinginannya, serta berani mengungkapkannya tanpa melukai perasaan orang lain. Seorang istri sebenarnya mempunyai hak untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Dan istripun seharusnya mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya pada suami, tanpa harus mengabaikan rasa hormat terhadap suami.

Seringkali seorang istri mempunyai keinginan, tapi enggan untuk menyampaikannya kepada suami, dan istri berharap suami akan mengetahuinya sendiri. Padahal, bagaimana mungkin suami dapat mengetahui keinginannya kalau tidak diberi tahu. “Kalau tidak ada komunikasi , manalah dia tahu apa yang kita mau. Dia kan tidak tahu isi hati kita. Karena yang tahu isi hati kita, hanya Allah dan kita, ” tegas Evi

Mendekatkan diri pada Allah

Upaya mendekatkan diri pada Allah urgensinya sangat besar, sekaligus sebagai simpul semua usaha melicinkan jalan komunikasi bagi pasangan suami istri. “Karena kita yakin yang memegang hati itu adalah Allah. Kalau hubungan kita dekat dengan Allah, maka hati pasangan kita ada dalam genggamanNya. Kalau dia kecewa dan kesal pada kita, dengan izin Allah, allah akan cairkan kebekuan hatinya, ” jelas Ustadz Ahmad Sahal.

Artikel ini diambil dari Majalah Ummi No.1/XVII Mei 2005/1426

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: